PALEMBANG, PALEMBANGSEKILAN.COM – Kasus mengejutkan mengguncang jagat media sosial di Palembang. Seorang nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Palembang Sriwijaya mengaku menjadi korban dugaan praktik culas oknum perbankan dalam proses eksekusi lelang aset tanah dan bangunannya.
Melalui unggahan viralnya, sang nasabah mengungkapkan rasa putus asanya mencari keadilan atas nasib propertinya yang berlokasi di Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang.
Kronologi Versi Nasabah: Uang “Penyelamat” Ditolak, Lelang Tetap Jalan
Nasabah tersebut menjelaskan bahwa dirinya memiliki fasilitas kredit investasi dan modal kerja senilai Rp5 miliar dengan agunan dua SHM (No. 3289 dan No. 3749).
Ketegangan memuncak saat ia berupaya melakukan pelunasan pada 8 April 2025—tepat sehari sebelum jadwal lelang. Sang nasabah mengklaim telah mengikuti arahan oknum pejabat cabang BRI untuk membawa uang tunai sebesar Rp3 miliar demi membatalkan lelang.
Namun, drama dimulai di sini. Meskipun ia telah memenuhi permintaan tersebut, pihak bank diduga sengaja tidak memproses penyetoran, sehingga lelang tetap dipaksakan berjalan pada 9 April 2025.
Dugaan “Diskon” Nilai Aset yang Tidak Masuk Akal
Kejanggalan tak berhenti di sana. Nasabah tersebut menyoroti perbedaan nilai yang sangat mencolok (disparitas):
Hasil Penilaian Independen (KJPP Sugianto Prasodjo & Rekan): Rp10.376.000.000,-
Nilai Limit Lelang: Hanya Rp3.210.000.000,-
Selisih angka yang fantastis ini memicu kecurigaan kuat adanya manipulasi nilai limit agar aset bernilai miliaran rupiah tersebut bisa berpindah tangan dengan harga sangat murah.
Dugaan Kebohongan Pihak Bank
Dalam upaya memperjuangkan haknya, nasabah tersebut mengaku dipersulit saat hendak menyerahkan surat pengajuan penyelesaian. Ia sempat diberitahu bahwa sekretaris tidak ada di tempat. Namun, saat ia berinisiatif mengecek langsung ke lantai 3, sekretaris tersebut ditemukan ada di ruangannya.
“Membuktikan ada kebohongan dari oknum pihak bank,” tegasnya dalam narasi unggahan tersebut.
Kini, nasabah tersebut telah mendokumentasikan bukti-bukti kejanggalan tersebut dan secara terbuka memohon atensi dari Presiden RI, @prabowo, serta pihak terkait lainnya untuk mengusut tuntas dugaan praktik tidak terpuji yang diduga dilakukan oleh oknum di lingkungan perbankan tersebut. (nto)







