Angin Timur Bawa Asap Karhutla, Palembang Dikepung Udara Berbahaya

PALEMBANG — Kabut asap pekat menyelimuti seluruh wilayah Kota Palembang pada Kamis (1/10/2026) pagi. Paparan asap tersebut didorong oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang intensif menerjang wilayah tetangga, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup melalui laman Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), konsentrasi partikulat PM2,5 di Palembang menembus angka 285. Tingkat polusi ini menempatkan kualitas udara ibu kota Sumatera Selatan tersebut dalam kategori berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Pemantauan per pukul 07.40 WIB memperlihatkan kondisi serupa melanda Kabupaten Ogan Ilir. Konsentrasi PM2,5 di wilayah tersebut bahkan menyentuh angka 326, yang juga tergolong dalam kategori sangat berbahaya.

Atas lonjakan polusi ini, Ogan Ilir dan Palembang masuk dalam jajaran wilayah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia yang memerlukan penanganan krusial. Dalam daftar pemantauan nasional tersebut, Ogan Ilir menduduki peringkat kelima, sementara Palembang berada di posisi kesepuluh.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, menyatakan bahwa personel Manggala Agni terus berjibaku memadamkan kobaran api di sejumlah titik krusial, salah satunya di Pangkalan Lampam, Kabupaten OKI, yang menjadi sumber emisi asap.

“Ada tiga daerah di OKI yang saat ini terus dilakukan pemadaman, yaitu Cengal, Tulung Selapan, dan Riding,” kata Ferdian, Kamis (1/10/2026).

Ia menambahkan, karakteristik kebakaran di kedua wilayah memiliki perbedaan mendasar. “Kita bisa bedakan, asap dari Palembang yang terbakar berupa lahan mineral, sedangkan dari OKI berupa gambut yang sangat kering,” rincinya.

Sementara itu, citra sebaran BMKG per 1 Oktober 2026 mengonfirmasi adanya pergerakan angin dominan dari arah timur hingga tenggara. Hal ini mempercepat laju pergerakan asap karhutla dari kawasan OKI menuju Palembang.

Baca Juga :  Kepala MAN 2 Palembang: Maulid Nabi Momentum Pelajar Meneladani Akhlak Rasulullah

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang, Wandayantolis, menjelaskan bahwa kecepatan angin saat ini berada di rentang 5 hingga 20 knot. “Dari arah angin, sebaran asap dari Palembang berasal dari OKI karena angin berhembus dari timur ke tenggara,” tutur Wandayantolis.

Kondisi pengepungan asap ini berisiko tinggi terhadap kesehatan, khususnya bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Dinamika kualitas udara di Palembang diprakirakan masih akan terus berfluktuasi, sangat bergantung pada efektivitas pemadaman karhutla serta pergerakan arah angin di wilayah Sumatera Selatan.(Dn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *