Mendorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Mahasiswa PBL FKM Unsri Gelar Pelatihan Pembuatan Kompos bagi Masyarakat Desa Sungai Dua

Sungai Dua, palembangsekilan.com– Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL), Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya (FKM Unsri) Kelompok 11 melaksanakan program kerja unggulan berupa Pelatihan Pembuatan Kompos dari Sampah Organik bagi masyarakat Desa Sungai Dua, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin. Senin (29/6/2026).

Program ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi lapangan yang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Sungai Dua masih belum optimal. Sebagian masyarakat masih terbiasa membakar sampah atau membuangnya ke aliran sungai, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan serta berdampak pada kesehatan masyarakat.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa PBL FKM Unsri menginisiasi pelatihan pembuatan kompos sebagai salah satu solusi sederhana, mudah diterapkan, dan berkelanjutan. Selain bertujuan mengurangi jumlah sampah organik yang dihasilkan rumah tangga, kompos yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami untuk mendukung sektor pertanian, mengingat sebagian besar masyarakat Desa Sungai Dua berprofesi sebagai petani.

Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan sampah dan pembuatan kompos sebelum diberikan edukasi. Tahapan ini dilakukan sebagai dasar untuk mengetahui pemahaman awal peserta sekaligus menjadi bahan evaluasi efektivitas penyuluhan yang diberikan.

Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi edukasi mengenai konsep dasar kompos, manfaat kompos bagi lingkungan dan pertanian, serta pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik. Dalam sesi ini, peserta diberikan pemahaman bahwa sampah organik, seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit bawang, masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat, berbeda dengan sampah anorganik yang memerlukan metode pengolahan tersendiri.

Setelah penyampaian materi, peserta diperkenalkan dengan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan kompos. Alat yang digunakan meliputi galon bekas, karung, tali rafia, pisau, dan gunting. Adapun bahan utama berupa sekitar 5 kilogram sampah organik, seperti daun kering, sisa sayuran, dan kulit bawang, yang dipadukan dengan larutan aktivator yang terdiri atas 50 ml EM4, 5 gram gula merah, dan 500 ml air.

Baca Juga :  Aksi Kejahatan Malam Hari di Banyuasin, Motor NMAX Raib, Korban Luka Parah

Mahasiswa kemudian menjelaskan tahapan pembuatan kompos secara sistematis. Proses diawali dengan mencacah sampah organik hingga berukuran kecil agar proses penguraian berlangsung lebih cepat. Selanjutnya, gula merah dilarutkan ke dalam air, kemudian dicampurkan dengan EM4 sebagai aktivator mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat proses dekomposisi bahan organik.

Agar materi lebih mudah dipahami, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung pembuatan kompos. Dalam sesi ini, masyarakat tidak hanya menyaksikan proses pembuatan, tetapi juga terlibat secara aktif dalam setiap tahapan. Pendekatan partisipatif tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sehingga peserta diharapkan mampu menerapkan teknik pembuatan kompos secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing.

Kepala Desa Sungai Dua, Hartomi mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut.

“Ini merupakan gagasan luar biasa dari adik-adik mahasiswa FKM UNSRI membuat sebuah inovasi yang berdampak bagi masyarakat Desa Sungai Dua. Kami mengapresiasi setinggi-tingginya,” Ujarnya

Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan dalam sesi diskusi dan tanya jawab, mulai dari teknik pembuatan kompos, pemanfaatannya bagi tanaman, hingga cara mengatasi kendala yang mungkin ditemui selama proses pengomposan. Diskusi yang interaktif menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mulai menerapkan pengelolaan sampah organik yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai penutup, mahasiswa melaksanakan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan dan pelatihan memberikan dampak positif terhadap pemahaman masyarakat. Berdasarkan data post-test, sebanyak 85% peserta mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan benar, yang mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Desa Sungai Dua mengenai kompos dan proses pembuatannya telah berada pada kategori baik.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh peserta, sekaligus mencerminkan efektivitas metode penyuluhan yang dipadukan dengan demonstrasi dan praktik langsung. Diharapkan, peningkatan pengetahuan ini dapat mendorong masyarakat untuk menerapkan pembuatan kompos secara mandiri sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Satu Bulan Jabat! Kajari Banyuasin Erni Segera Tindak Kerugian Negara 40 Persen di PMI,  Langsung Perintahkan Kasi Pidsus Giovani Tahan Tersangka, Hasilnya Selamatkan Kerugian Negara dihari yang Sama

Melalui program kerja ini, Mahasiswa PBL FKM Unsri berharap masyarakat Desa Sungai Dua dapat menerapkan pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan serta memanfaatkan kompos sebagai pupuk alami yang bernilai ekonomis dan bermanfaat bagi sektor pertanian. Dengan demikian, kebiasaan membakar sampah maupun membuang sampah ke sungai dapat berangsur berkurang, sehingga tercipta lingkungan desa yang lebih bersih, sehat, dan lestari. (Nto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *