PALEMBANG – Matahari baru saja meninggi di langit Palembang pada Senin (21/4/2026) pagi, namun urat nadi jalanan kota sudah lumpuh. Di bawah sengatan terik, ratusan kendaraan bergerak merayap, terjebak dalam ritual melelahkan yang seolah tanpa akhir berburu solar. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati, Sumatra Selatan yang dikenal sebagai lumbung energi, justru harus menyaksikan rakyatnya mengemis bahan bakar di tanah mereka sendiri.
Pantauan di SPBU Jalan Soekarno-Hatta menyajikan pemandangan yang dramatis. Barisan truk angkutan barang, mobil pick-up, hingga kendaraan pribadi mengular panjang, menyambung hingga ke simpang arah Jalan Tanjung Api-Api. Kemacetan parah pun tak terhindarkan, menyandera aktivitas kota. Di balik kemudi, para sopir bertarung dengan waktu dan rasa frustrasi yang memuncak.
“Kami bolak-balik dari semalam. Kalau telat, barang telat sampai juga,” keluh Riduan, seorang sopir truk yang gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya, Mengutip Extranews.
Pemandangan serupa tapi tak sama terlihat di SPBU Alang-Alang Lebar. Antrean kendaraan raksasa merayap menjalar hingga ke Simpang Talang Kelapa. Demi menyiasati kekacauan di siang hari, beberapa SPBU di tengah kota seperti SPBU Punti Kayu, SPBU arah Tanjung Api-Api, dan SPBU di Demang Lebar Daun terpaksa mengubah strategi. Mereka baru membuka keran solar subsidi pada malam buta, mulai pukul 22.00 hingga menjelang subuh pukul 04.00 WIB. Kota tidur, namun para pemburu solar tetap terjaga.
Pihak SPBU berkilah bahwa pasokan solar sebenarnya datang tepat waktu sesuai jadwal. Namun, mereka kewalahan. Gelombang kendaraan yang datang bak air bah, jauh melampaui kapasitas normal. Meski petugas mengklaim telah menambah nozzle dan memperketat pengaturan jalur, kenyataan di lapangan tetap saja semrawut.
Hingga berita ini diturunkan, Pertamina Patra Niaga Sumbagsel masih memilih bungkam dan belum memberikan keterangan resmi terkait lonjakan antrean yang mencekik kota ini. Bagi warga dan para pekerja jalanan, bungkamnya otoritas adalah ketidakpastian yang mahal. Mereka hanya punya satu tuntutan sederhana: lancarkan distribusi solar, sebelum roda ekonomi bumi Sriwijaya ini benar-benar mati suri. (Nto)










