PALEMBANG, PScom — Jembatan besi penghubung Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar menuju kawasan Perumdam atau Karya Baru, Jalan Soekarno-Hatta, hingga kini belum kunjung diperbaiki. Padahal, beberapa bulan lalu, jembatan ini sempat viral setelah sebuah mobil terperosok akibat kondisi jembatan yang berongga dan membahayakan pengguna jalan.
Kala itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa turun langsung ke lokasi dan menegaskan akan segera memperbaiki jembatan tersebut dengan anggaran sekitar Rp5 miliar yang dijadwalkan terealisasi pada Mei 2025. Janji itu bahkan sempat disampaikan secara terbuka melalui unggahan video di media sosialnya, di mana ia menelpon langsung pejabat dinas terkait untuk menindaklanjuti.
Namun, janji tersebut hingga kini tak kunjung terwujud. Warga yang setiap hari melintas di jembatan itu kini mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah kota.
“Jembatan ini sudah 17 tahun, setahu saya belum pernah diperbaiki. Kondisinya seperti ini, apalagi kalau hujan licin berbahaya. Besinya banyak yang berkarat, dan bolong di beberapa titik,” ujar PO, salah seorang warga Talang Kelapa yang enggan disebutkan namanya.
Ia mengaku kecewa dengan sikap Wali Kota Palembang yang dianggap hanya memberikan “angin surga” kepada masyarakat.
“Waktu viral, ramai sekali di media sosial, Pak Wali turun langsung, bilang akan diperbaiki bulan Mei. Tapi nyatanya cuma janji di depan kamera. Sekarang sudah November, belum ada alat atau pekerja yang datang,” ujarnya kesal.
Warga lainnya menambahkan, jembatan besi tersebut merupakan satu-satunya akses vital bagi masyarakat Talang Kelapa menuju kawasan Soekarno-Hatta dan sekitarnya. Kondisinya yang rusak parah membuat aktivitas warga, termasuk pelajar dan pekerja, terganggu.
“Sebagai pemimpin, kami berharap Pak Ratu Dewa segera menepati janji. Jangan tunggu ada korban lagi baru bergerak. Ini bukan soal pencitraan, tapi soal keselamatan warga,” tukasnya.
Kini, masyarakat Talang Kelapa hanya bisa berharap agar janji perbaikan jembatan besi senilai Rp5 miliar itu benar-benar diwujudkan, bukan sekadar “pelipur lara” di ruang digital. Karena bagi mereka, jembatan bukan sekadar besi yang berkarat tetapi urat nadi kehidupan yang menunggu ditegakkan kembali.











