Kasus Tato Tipu-Tipu Terulang Lagi, Pemkot Palembang Dinilai Tak Tegas! Korban Kontingen Papua Barat Kecewa Berat, Warga : Malu-maluin Kota

Palembang, PScom – Janji manis soal tato temporer yang disebut bisa bertahan hingga tiga bulan berubah jadi kekecewaan mendalam bagi kontingen Pekan Olahraga Nasional (Pornas) Korpri asal Papua Barat, Alfaris Nauw. Ia menjadi korban dugaan praktik curang tukang tato di kawasan wisata Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.

Alfaris menceritakan, awalnya ia dan tiga rekannya hanya ingin bersantai sore di sekitar Jembatan Ampera. Di sana, mereka ditawari jasa tato temporer oleh seseorang. Setelah dijelaskan harga Rp3.000 per sentimeter, mereka pun menyetujui. “Kami percaya karena katanya bisa bertahan tiga bulan. Kami pikir habis sekitar dua ratus ribuan,” ungkapnya.

Namun, kejutan tidak menyenangkan datang setelah tato selesai dibuat. Total biaya yang harus dibayar justru mencapai Rp1,5 juta. “Kami kaget, karena dihitung pakai meteran. Saya kena Rp314 ribu, teman saya Rp1,2 juta. Karena tidak bawa uang, kami minta waktu ke hotel untuk bayar,” jelasnya.

Setelah dilakukan negosiasi melalui pihak hotel, akhirnya disepakati harga akhir Rp1 juta. “Kami bayar Rp1 juta, meskipun sebenarnya tidak ikhlas. Tapi karena sudah janji, kami lunasi,” tambah Alfaris.

Kekecewaan terbesar datang ketika tato yang dijanjikan tahan hingga tiga bulan itu justru hilang hanya dalam satu hari. “Sedih dan kecewa, karena setelah mandi langsung hilang semua. Padahal kami percaya dan sudah bayar mahal,” sesalnya.

Meski begitu, Alfaris mengaku tidak akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum karena sudah diselesaikan secara damai dengan bantuan Pemkot Palembang yang mengganti rugi biaya Rp1 juta. Ia pun mengucapkan terima kasih atas respons cepat pemerintah kota.

Namun, kejadian seperti ini ternyata bukan kali pertama. Warga Palembang, Prai (32), menilai praktik serupa sudah sering terjadi dan mencoreng wajah kota. “Ini sudah sering terjadi di kawasan wisata. Tukang tato memang cari makan, tapi kalau terus berulang dan merugikan orang luar daerah, ya memalukan nama Palembang,” tegasnya.

Baca Juga :  Pengurus Partai Lolos Seleksi Direksi BUMD PD Pasar Palembang, Kok Bisa ?

Ia mendesak agar Pemkot Palembang menindak tegas pelaku usaha nakal di kawasan wisata. “Ayolah Pemkot, jangan cuma ganti rugi setelah viral. Harus ada sanksi dan pengawasan ketat, biar wisatawan aman dan nyaman,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *