Palembang, Pscom – Insiden kecelakaan lalu lintas kembali mengguncang kawasan Tanjung Barangan, Palembang, Selasa (2/9/2025). Seorang pengendara sepeda motor yang diduga berprofesi sebagai ojek online (ojol) tewas setelah ditabrak truk mobil boks. Video yang diunggah akun palembang.digital memperlihatkan kondisi korban yang tergeletak di lokasi kejadian dan diduga meninggal di tempat.
Tarik ke belakang, dua bulan lalu, kecelakaan serupa juga terjadi di kawasan Gandus. Bedanya, peristiwa itu melibatkan truk pengangkut tanah galian C. Korbannya seorang pelajar yang mengalami luka berat hingga koma. Rangkaian peristiwa tragis ini menimbulkan pertanyaan besar: sampai kapan masyarakat harus jadi korban akibat lalu lintas truk di jalur Gandus dan Tanjung Barangan?
Warga sudah lama menyuarakan keresahan mereka. Jalan-jalan di kawasan ini tak hanya dilalui kendaraan besar seperti mobil boks dan truk galian C, tetapi juga dipakai warga untuk aktivitas sehari-hari. Ketidakseimbangan fungsi jalan itulah yang kerap memicu risiko kecelakaan berulang.
Dalam situasi ini, peran Pemerintah Kota Palembang sangat ditunggu. Jalan tersebut merupakan aset daerah dengan tanggung jawab pengawasan di tangan Pemkot. Sudah seharusnya ada regulasi tegas terkait jam operasional dan rute alternatif kendaraan besar agar tidak membahayakan pengguna jalan lain, terutama di kawasan padat penduduk.
Selain itu, aparat berwenang bersama Dishub dan kepolisian diharapkan memperketat pengawasan. Aktivitas angkutan barang maupun galian C yang sarat kepentingan bisnis tidak boleh mengorbankan keselamatan masyarakat. Keselamatan publik harus ditempatkan di atas kepentingan ekonomi.
Kecelakaan yang terus berulang jelas menjadi alarm keras. Pemerintah, aparat, pelaku usaha angkutan, hingga masyarakat perlu duduk bersama mencari solusi nyata. Jalan raya bukan hanya jalur bisnis, melainkan ruang publik yang wajib aman dan manusiawi.
Narasi ini bukan untuk menyalahkan satu pihak, tetapi ajakan agar semua pihak lebih peduli. Pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu korban berikutnya jatuh.










