Palembang – Perjalanan kemanusiaan tim relawan asal Jakarta yang membawa bantuan untuk korban banjir di Aceh diduga ternoda praktik tidak terpuji. Saat melintas di Palembang, rombongan relawan mengaku diduga menjadi korban pemalakan oleh oknum petugas Dinas Perhubungan (Dishub), meski telah menjelaskan bahwa kendaraan yang mereka gunakan membawa bantuan penting bagi warga terdampak bencana menjelang Ramadan.
Peristiwa yang menegangkan tersebut terjadi pada Rabu (7/1/2026) siang, tepatnya saat rombongan relawan keluar dari Tol Keramasan, di depan Terminal Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, Palembang. Mobil relawan bernomor polisi B 1025 EIX yang membawa mesin pemurnian air serta perlengkapan salat—sesuai hasil asesmen kebutuhan korban banjir—justru diberhentikan dan diduga ditilang oleh oknum Dishub di lokasi.
Kevin, salah satu relawan petualang dalam tim tersebut, mengungkapkan bahwa sejak awal oknum petugas di lokasi diduga telah mengetahui identitas mereka sebagai relawan. Namun, hal tersebut tidak membuat kendaraan mereka dilepaskan.
“Tadi mereka juga tahu, kayaknya sudah paham kalau kami ini relawan petualang, tapi tetap nggak dilepas,” kata Kevin.
Menurut Kevin, ia memilih tidak memperpanjang persoalan demi memastikan bantuan kemanusiaan tetap sampai tepat waktu ke lokasi bencana, mengingat kebutuhan korban banjir sangat krusial menjelang bulan suci Ramadan. Ia pun mencoba menyelesaikan persoalan tersebut secara damai.
“Saya bilang nggak mau ribet, maunya gimana. Saya kasih Rp50 ribu, tapi dia nggak mau, katanya kurang,” ujarnya.
Situasi di lokasi semakin menekan ketika muncul ucapan yang diduga bernada ancaman, seolah keselamatan perjalanan panjang menuju Aceh dijadikan sebagai tekanan terhadap relawan.
“Dia bilang, ‘perjalanan masih jauh, mau aman nggak?’ ngomongnya begitu,” ungkap Kevin.
Tak hanya Kevin, salah satu rekannya juga diduga mengalami tekanan dari beberapa orang di lokasi. Dalam kondisi ramai dan sulit menghindar, Kevin akhirnya memilih maju sendiri menghadapi oknum Dishub tersebut.
“Teman saya juga dirempuk tiga orang. Akhirnya saya yang ngadep, saya ditarik ke seberang ke posnya, ngobrol lama, tapi tetap nggak mau ngelepasin kami,” tuturnya.
Kevin menegaskan, sejak awal mereka telah menjelaskan bahwa kendaraan tersebut membawa bantuan kemanusiaan, mulai dari mesin pemurnian air hingga perlengkapan ibadah yang sangat dibutuhkan korban banjir untuk menyambut bulan suci Ramadan. Namun, penjelasan tersebut diduga tidak menjadi pertimbangan bagi oknum petugas di lokasi.
Kritik Pedas: Dugaan Pemalakan di Jalur Kemanusiaan
Jika dugaan tersebut benar, maka peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi wajah pelayanan publik. Di saat relawan bergerak dengan niat tulus membantu korban bencana, justru muncul dugaan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan. Lebih memprihatinkan lagi, adanya ucapan yang diduga bernada ancaman semakin memperburuk citra aparat di lapangan.
Pemerintah Kota Palembang dan instansi terkait perlu segera memberikan klarifikasi dan melakukan penelusuran mendalam. Dugaan pemalakan terhadap relawan bukan perkara sepele, karena berpotensi menghambat distribusi bantuan dan menggerus kepercayaan publik terhadap aparat negara.
Relawan seharusnya dilindungi dan difasilitasi, bukan justru dihadapkan pada tekanan di jalan. Jalur kemanusiaan semestinya steril dari praktik-praktik yang diduga menyimpang. Jika dugaan ini dibiarkan tanpa kejelasan, maka luka kepercayaan masyarakat akan semakin dalam.







